Masyarakat
masih pro-kontra terhadap kebijakan plastik berbayar. Tidak jarang warga
menolak pungutan uang untuk plastik. Meski demikian, banyak juga masyarakat
yang setuju terhadap kebijakan tersebut.
"Kalau menurut saya, enggak usah plastik
berbayar lah, kasihan ibu-ibu kalau kalau ke pasar. Sudah cabai dan bawang
mahal, ditambah kantong harus bayar," ujar Apiek Linova, 21 tahun,
pengunjung minimarket kepada Tempo, Senin, 22 Februari 2016.
Apiek
juga berharap ada alternatif baru, misalnya kantong kertas seperti di luar
negeri. Salah satu pengunjung supermarket di Jakarta Selatan juga berpendapat
sama, yaitu menolak penerapan kantong plastik berbayar. "Kenapa
enggakdimasukin ke pajak makanan yang kita beli aja?
Kan udah ada pajaknya juga, tuh," ujar Suyoto, 49 tahun.
Apalagi,
menurut pegawai swasta di salah satu perusahaan di daerah Pejaten ini, kantong
plastik di beberapa pusat perbelanjaan sudah bisa diurai. "Bukannya sampah
plastik dari supermarket sudah bisa diurai sendiri, ya? Ada logonya di plastik
itu, lama-lama bisa rusak sendiri," ujarnya.
Namun
ada juga warga yang setuju dengan kebijakan baru ini. "Saya setuju plastik
berbayar jika dilihat dari segi lingkungan, setiap saya lewat tempat pembuangan
sampah, yang susah terurai itu," ujar Wulan Agustin, 26 tahun.
Akunting
di salah satu perusahaan asing di daerah Kuningan itu menambahkan, plastik
berbayar akan berdampak terhadap penghematan secara pribadi. Sebab, orang yang
belanja akan membawa tas masing-masing. "Jadi enggak perlu ada produksi
plastik lagi dan kalau di toko-toko sudah tahu pemahaman Go Green pasti mereka
kasihnya paper bag, bukan tas plastik," ujar Wulan.
Belum
lagi yang dilakukan oleh para penjual di pasar tradisional. Mereka masih belum
aware dengan kebijakan diet kantong plastik yang sedang dilakukan di Indonesia
beberapa waktu belakangan ini. Ketika berbelanja di pasar tradisional, para
pedagang masih memaksakan kita untuk menggunakan kantong plastik, yang
sebenarnya sebelum ia memaksakan kehendaknya, saya sebagai pembeli meminta agar
belanjaan yang saya beli agar tetap ditaruh di kantong yang telah saya bawa.
Ketika saya membeli sabun dan makanan secara bersamaan. Dengan
paksaan yang lebih kuat, para pedagang memaksakan untuk memisahkan makanan
dengan sabun/barang yang mengandung bahan kimia menggunakan berkantong-kantong
kantong plastik. Sebenarnya perlu diberikan pengetahuan berupa penyuluhan
terhadap para pedagang yang masih awam akan pentingnya diet kantong plastik.
Dan yang saya rasa, tarif yang dipatok bagi para supermarket konvensional yang
selalu ada di tiap 30 meter seperti Alfamart/Indomaret atau yang lainnya yang
berakhiran mart, mereka mematok harga yang saya rasa sangat rendah, sebesar Rp
200,-. Bagi saya uang Rp 200,- bukanlah hal yang besar, orang lain pun saya
rasa juga berfikiran sama dengan pendapat saya. Mungkin ketika satu kantong
plastik dihargai Rp 5.000,- baru para masyarakat akan berfikir dua atau tiga
kali untuk mengiyakan pertanyaan kasir ketika bertanya “kantong platik ditambah
Rp 5.000,- ya pak atau ibu?”. Ketika hal itu terjadi maka kesadaran selalu
membawa kantong kain atau kantong apapun yang sudah dipersiapkan dari rumah
masing-masing, maka baru akan terjadi perubahan pengurangan kantong plastik
yang sangat drastis. Sehingga mudahlah terciptanya GoGreen untuk negara tercinta ini, Indonesia.

No comments:
Post a Comment