Monday, March 14, 2016

DIET KANTONG PLASTIK?


Masyarakat masih pro-kontra terhadap kebijakan plastik berbayar. Tidak jarang warga menolak pungutan uang untuk plastik. Meski demikian, banyak juga masyarakat yang setuju terhadap kebijakan tersebut.
   "Kalau menurut saya, enggak usah plastik berbayar lah, kasihan ibu-ibu kalau kalau ke pasar. Sudah cabai dan bawang mahal, ditambah kantong harus bayar," ujar Apiek Linova, 21 tahun, pengunjung minimarket kepada Tempo, Senin, 22 Februari 2016.
Apiek juga berharap ada alternatif baru, misalnya kantong kertas seperti di luar negeri. Salah satu pengunjung supermarket di Jakarta Selatan juga berpendapat sama, yaitu menolak penerapan kantong plastik berbayar. "Kenapa enggakdimasukin ke pajak makanan yang kita beli aja? Kan udah ada pajaknya juga, tuh," ujar Suyoto, 49 tahun. 
Apalagi, menurut pegawai swasta di salah satu perusahaan di daerah Pejaten ini, kantong plastik di beberapa pusat perbelanjaan sudah bisa diurai. "Bukannya sampah plastik dari supermarket sudah bisa diurai sendiri, ya? Ada logonya di plastik itu, lama-lama bisa rusak sendiri," ujarnya.
Namun ada juga warga yang setuju dengan kebijakan baru ini. "Saya setuju plastik berbayar jika dilihat dari segi lingkungan, setiap saya lewat tempat pembuangan sampah, yang susah terurai itu," ujar Wulan Agustin, 26 tahun.
Akunting di salah satu perusahaan asing di daerah Kuningan itu menambahkan, plastik berbayar akan berdampak terhadap penghematan secara pribadi. Sebab, orang yang belanja akan membawa tas masing-masing. "Jadi enggak perlu ada produksi plastik lagi dan kalau di toko-toko sudah tahu pemahaman Go Green pasti mereka kasihnya paper bag, bukan tas plastik," ujar Wulan. 
Belum lagi yang dilakukan oleh para penjual di pasar tradisional. Mereka masih belum aware dengan kebijakan diet kantong plastik yang sedang dilakukan di Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Ketika berbelanja di pasar tradisional, para pedagang masih memaksakan kita untuk menggunakan kantong plastik, yang sebenarnya sebelum ia memaksakan kehendaknya, saya sebagai pembeli meminta agar belanjaan yang saya beli agar tetap ditaruh di kantong yang telah saya bawa. 
Ketika saya membeli sabun dan makanan secara bersamaan. Dengan paksaan yang lebih kuat, para pedagang memaksakan untuk memisahkan makanan dengan sabun/barang yang mengandung bahan kimia menggunakan berkantong-kantong kantong plastik. Sebenarnya perlu diberikan pengetahuan berupa penyuluhan terhadap para pedagang yang masih awam akan pentingnya diet kantong plastik. Dan yang saya rasa, tarif yang dipatok bagi para supermarket konvensional yang selalu ada di tiap 30 meter seperti Alfamart/Indomaret atau yang lainnya yang berakhiran mart, mereka mematok harga yang saya rasa sangat rendah, sebesar Rp 200,-. Bagi saya uang Rp 200,- bukanlah hal yang besar, orang lain pun saya rasa juga berfikiran sama dengan pendapat saya. Mungkin ketika satu kantong plastik dihargai Rp 5.000,- baru para masyarakat akan berfikir dua atau tiga kali untuk mengiyakan pertanyaan kasir ketika bertanya “kantong platik ditambah Rp 5.000,- ya pak atau ibu?”. Ketika hal itu terjadi maka kesadaran selalu membawa kantong kain atau kantong apapun yang sudah dipersiapkan dari rumah masing-masing, maka baru akan terjadi perubahan pengurangan kantong plastik yang sangat drastis. Sehingga mudahlah terciptanya GoGreen untuk negara tercinta ini, Indonesia.
ksp tugas pic3.png


No comments:

Post a Comment